Usaha Pembudidayaan Jamur Merang Keluarga Bapak Abdul Karim Di Gampong Geudubang Jawa Kecamatan Langsa Baro
Jamur merupakan salah satu tumbuhan yang tidak berklorofil sehingga
membutuhkan senyawa organik dimana karbon diekstrak untuk pertumbuhannya. Jamur
biasa tumbuh di daerah yang lembab, jamur sendiri terdiri dari benang-benang
yang disebut hifa. Hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut
miselium. Jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan
miseliumnya untuk memperoleh makanannya. Setelah itu, menyimpannya dalam bentuk
glikogen. Jamur merupakan konsumen, maka dari itu jamur bergantung pada
substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia
lainnya yang dimana semua zat itu diperoleh dari lingkungannya.
Jamur memiliki beragam macam jenis ada jamur yang tidak bisa
dimakan dan ada pula yang bisa dimakan. Beberapa jenis jamur yang bisa dimakan
diantaranya yaitu jamur kancing, jamur merang, jamur shiitake, jamur enoki,
jamur tiram, jamur kuping, jamur truffle, jamur porcino, jamur shimeji, jamur
matsutake, jamur maitake, jamur portobello, jamur morei, jamur pompom, dan
jamur tudung pengantin. Jamur yang bisa dimakan mengandung unsur-unsur yang baik
bagi tubuh seperti vitamin B, vitamin C, karbohidrat, zat besi, kalsium,
protein, kalori dan air. Jamur memiliki segudang manfaat bagi kesehatan yakni
dapat mencegah kanker, menjaga kesehatan jantung, meningkatan kekebalan tubuh,
menurunkan kadar kolesterol dalam darah, menjaga kesehatan otot dan saraf,
menjaga kesehatan tulang, dan menurunkan resiko diabetes.
Di kota Langsa tepatnya di Gampong Geudubang Jawa sendiri terdapat
salah satu warga yang membudidayakan tumbuhan ini dengan jenis jamur merang, jamur
merang termasuk kedalam spesies jamur pangan yaitu jenis jamur yang dapat dimakan.
Olvariella avovacea atau jamur merang banyak tumbuh di Asia Timur dan juga
daerah Tenggara dengan iklim subtropis dan juga tropis.
Jamur merang dapat tumbuh dengan menggunakan media tanam seperti
sekam padi, jerami busuk, ataupun tandan kosong kelapa sawit, maka dari itu tidak heran jamur ini dinamai dengan sebutan jamur merang. Ciri-ciri yang dimilikinya yaitu
berbentuk seperti cawan berwarna coklat muda yang menjadi selubung pembungkus.
Bentuk jamur merang yang masih muda akan berbentuk seperti telur, berwarna
coklat gelap hingga abu-abu, saat dewasa bagian batang akan berwarna coklat
muda. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Donowati Tjokrokusumo tahun 2015
jamur merang mengandung 11 % beta glukan yang dapat mendukung imunitas serta
pencegahan penyakit degeneratif (anti kolesterol), anti kanker dan anti mikroba.
Budidaya jamur merang ini juga cukup menjanjikan selain memiliki
waktu panen yang singkat harga jualnya juga cukup tinggi. Kesempatan ini
diambil oleh bapak Abdul Karim salah satu warga Gampong geudubang Jawa. Pembudidayaan ini mulai dilakukan beliau sejak tahun 2018
yang awal mulanya karena mencoba jamur milik teman nya yang telah terlebih dahulu melakukan pembudidayaan jamur merang. Lalu
kemudian bapak Abdul Karim ditawari oleh temannya tersebut untuk melakukan
pembudidayaan juga serta diajarkan bagaimana caranya, begitulah awal mula
tercetusnya dilakukan usaha pembudidayaan jamur ini, ungkap Nurul selaku anak
dari bapak Abdul Karim.
Dari situlah bapak Abdul Karim mulai merintis usaha budidaya jamur
ini dirumahnya sampai sekarang. Nurul pun menceritakan bagaimana proses demi
proses dari budidaya jamur merang ini. Dimulai dari bongkahan sawit yang sudah
tidak ada bijinya di lakukan fermentasi, setelah melewati tiga hari fermentasi
bongkahan sawit tersebut dibalik lalu kemudian dimasukkan kedalam kumbu jamur
untuk kemudian dilakukan penguapan, penguapan ini bisa memakan waktu sekitar
tiga hari, setelah selesai dilakukan penguapan barulah bibit jamur dimasukkan
ke kumbu dan tinggal menunggu jamurnya berkembang. Adapun bibit jamurnya
sendiri dipesan langsung dari Malang.
Panen jamur merang ini biasanya dilakukan selama dua belas hari
sekali. Pertama kali panen keluarga bapak Abdul Karim bisa mendapatkan 10 Kg
jamur, tetapi jika dihitung keseluruhan panennya dalam satu kumbu jamur bisa
menghasilkan 60 Kg lebih jamur. Jamur dipasarkan ke kedai-kedai sayur dan pasar
kota Langsa. Satu kilo jamur dibandrol dengan harga lima puluh ribu rupiah dan
bisa mendapatkan keuntungan bersih sampai dengan dua juta dalam sekali
panennya.
Di gampong Geudubang Jawa sendiri, jamur merang bapak Abdul Karim ini cukup diminati, terutama dikalangan pekerja kantoran serta ibu rumah tangga yang sering memesan jamur tersebut untuk dimasak dan dijadikan lauk makan bersama keluarga. Jamur merang selain rasanya yang enak dan gurih juga mendukung kesehatan bagi siapa yang mengkonsumsinya.
Penulis: Zain Adawiah, Mahasiswa KPM 2021, Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam, IAIN Langsa
Komentar
Posting Komentar